Pemerintah India kembali menunjukkan sikap keras terhadap rokok elektronik (vape) dengan menegaskan tidak akan melonggarkan larangan yang telah berlaku sejak 2019. Keputusan ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi perusahaan rokok multinasional seperti Philip Morris International yang selama bertahun-tahun melobi agar produk mereka diizinkan masuk ke pasar India.
Dalam laporan eksklusif Reuters, pemerintah India menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk mencabut atau merevisi aturan tersebut. “Pemerintah India tidak mempertimbangkan untuk mencabut, mengubah, atau melonggarkan larangan ini,” demikian pernyataan resmi Kementerian Kesehatan India.
Baca Lainnya :
- Pelarangan Vape Kian Meluas, 40 Negara Terapkan Kebijakan Ketat (0)
- Meksiko Resmi Larang Vape, Pemerintah Tegaskan Demi Kesehatan Publik (0)
- HMI Kota Bogor Apresiasi Gelar Doktor HC Komjen Suyudi, Kepemimpinan Intelektual Penegak Hukum (0)
- Anton Pallaguna: Ajudan Presiden Prabowo yang Menjadi Jenderal TNI AU Termuda (0)
- BNN Gagalkan Penyelundupan 2 Ton Sabu Senilai Rp5 Triliun (0)
*Konsistensi Kebijakan Kesehatan Publik*
Larangan vape di India mencakup seluruh bentuk rokok elektronik, termasuk produk tembakau yang dipanaskan (heat-not-burn) seperti IQOS. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pengendalian tembakau berbasis bukti yang lebih luas, dengan fokus pada pencegahan dan penghentian konsumsi nikotin.
Sejak diberlakukan pada 2019, aturan tersebut melarang produksi, impor, distribusi, hingga promosi rokok elektronik di seluruh wilayah India. Pemerintah juga menegaskan bahwa prioritas utama adalah melindungi masyarakat—terutama generasi muda—dari potensi risiko produk nikotin baru yang efek jangka panjangnya belum sepenuhnya dipahami.
*Lobi Industri Gagal Menembus Kebijakan*
Keputusan tegas India ini tidak lepas dari tekanan kuat industri tembakau global. Philip Morris International diketahui melakukan kampanye lobi intensif selama bertahun-tahun, termasuk melalui surat resmi, pertemuan dengan pejabat tinggi, hingga forum internasional seperti Davos.
Perusahaan tersebut berupaya meyakinkan pemerintah bahwa produk alternatif seperti vape dan tembakau pemanas dapat mengurangi dampak kesehatan dibanding rokok konvensional. Namun, pemerintah India tetap bergeming dan menilai pendekatan tersebut belum cukup kuat secara ilmiah untuk mengubah kebijakan.
*Pasar Besar yang Ditutup*
Langkah India mempertahankan larangan vape menjadi signifikan karena negara ini merupakan salah satu pasar rokok terbesar di dunia. Lebih dari 100 miliar batang rokok dikonsumsi setiap tahun, dengan angka kematian akibat tembakau mencapai lebih dari satu juta jiwa per tahun.
Dengan tetap ditutupnya pasar ini, perusahaan-perusahaan vape global—termasuk produsen besar—kehilangan peluang ekspansi di salah satu negara dengan potensi konsumen terbesar di dunia.
*Pesan Kuat: Kesehatan di Atas Industri*
Sikap India mencerminkan tren kebijakan kesehatan publik yang semakin tegas terhadap produk nikotin alternatif. Di tengah perdebatan global mengenai vape sebagai “alat pengurang risiko”, India memilih pendekatan konservatif: mencegah sejak awal daripada menghadapi dampak kesehatan di masa depan.
Keputusan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa tekanan industri tidak selalu mampu mengubah arah kebijakan negara, terutama ketika isu yang dipertaruhkan adalah kesehatan masyarakat luas.











Komentar
Tuliskan Komentar Anda!